watch sexy videos at nza-vids!
KING OF SEX
Bookmark Now!!
http://kingsex.jw.lt

Nikmatnya Keperawanan Rina
Not Found404; Not Found

Aku adalah seorang mahasiswa
tingkat akhir di perguruan tinggi di
Bandung, dan sekarang sudah tingkat
akhir. Untuk saat ini aku tidak
mendapatkan mata kuliah lagi dan
hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat
abangku di Jakarta. Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku
sampai ke rumah kakakku, aku
melihat ada tamu, rupanya ia adalah
teman kuliah kakakku waktu dulu.
Aku dikenalkan kakakku kepadanya.
Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja
namanya Firman. Ia pun
mengundangku untuk main ke
rumahnya dan dikenalkan pada anak-
istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih
muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP. Kalau aku ke Jakarta aku sering main
ke rumahnya. Dan pada hari Senin,
aku ditugaskan oleh Firman untuk
menjaga putri dan rumahnya karena
ia akan pergi ke Malang, ke rumah
sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam
berdarah dan dirawat selama 3 hari.
Oleh karena itu ia minta cuti di
kantornya selama 1 minggu. Ia
berangkat sama istrinya, sedangkan
anaknya tidak ikut karena sekolah. Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali
aku pulang dari rumah kakakku,
karena aku tidak ada kesibukan
apapun dan aku pun menuju rumah
Firman. Aku pun bersantai dan
kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian
bawahnya kulihat beberapa VCD
porno. Karena memang sendirian, aku
pun menontonnya. Sebelum habis
satu film, tiba-tiba terdengar pintu
depan dibuka. Aku pun tergopoh- gopoh mematikan televisi dan
menaruh pembungkus VCD di bawah
karpet. "Hallo, Oom Ryan..!" Rina yang baru
masuk tersenyum. "Eh, tolong dong
bayarin bajaj... uang Rina sepuluh-
ribuan, abangnya nggak ada
kembalinya." Aku tersenyum mengangguk dan
keluar membayarkan bajaj yang cuma
dua ribu rupiah. Saat aku masuk kembali.., pucatlah
wajahku! Rina duduk di karpet di
depan televisi, dan menyalakan
kembali video porno yang sedang
setengah jalan. Dia memandang
kepadaku dan tertawa geli. "Ih! Oom Ryan! Begitu to, caranya..?
Rina sering diceritain temen-temen di
sekolah, tapi belon pernah liat." Gugup aku menjawab, "Rina... kamu
nggak boleh nonton itu! Kamu belum
cukup umur! Ayo, matiin." "Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu,
dong! Tuh liat... cuma begitu aja!
Gambar yang dibawa temen Rina di
sekolah lebih serem." Tak tahu lagi apa yang harus
kukatakan, dan khawatir kalau
kularang Rina justru akan lapor pada
orangtuanya, aku pun ke dapur
membuat minum dan membiarkan
Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang
membaca majalah. Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan
membeli makanan. Sekembalinya, di
dalam rumah kulihat Rina sedang
tengkurap di sofa mengerjakan PR,
dan... astaga! Ia mengenakan daster
yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang
terbayang jelas. Paha dan betisnya
terlihat putih mulus, dan pantatnya
membulat indah. Aku menelan ludah
dan terus masuk menyiapkan
makanan. Setelah makanan siap, aku memanggil
Rina. Dan.., sekali lagi astaga... jelas ia
tidak memakai BH, karena puting
susunya yang menjulang membayang
di dasternya. Aku semakin gelisah
karena penisku yang tadi sudah mulai "bergerak", sekarang benar-benar
menegak dan mengganjal di
celanaku. Selesai makan, saat mencuci piring
berdua di dapur, kami berdiri
bersampingan, dan dari celah di
dasternya, buah dadanya yang indah
mengintip. Saat ia membungkuk,
puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin
gelisah. Selesai mencuci piring, kami
berdua duduk di sofa di ruang
keluarga. "Oom, ayo tebak. Hitam, kecil,
keringetan, apaan..?" "Ah, gampang! Semut lagi push -up!
Kan ada di tutup botol Fanta! Gantian...
putih-biru-putih, kecil, keringetan,
apa..?" Rina mengernyit dan memberi
beberapa tebakan yang semua
kusalahkan. "Yang bener... Rina pakai seragam
sekolah, kepanasan di bajaj..!" "Aahhh... Oom Ryan ngeledek..!" Rina meloncat dari sofa dan berusaha
mencubiti lenganku. Aku menghindar
dan menangkis, tapi ia terus
menyerang sambil tertawa, dan...
tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku,
membelakangiku. Lenganku
merangkul dadanya, dan ia duduk
tepat di atas batang kelelakianku!
Kami terengah-engah dalam posisi itu.
Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku
makin terangsang. Dan aku pun mulai
menciumi lehernya. Rina
mendongakkan kepala sambil
memejamkan mata, dan tanganku
pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Rina makin terengah, dan
tanganku pun masuk ke antara dua
pahanya. Celana dalamnya sudah
basah, dan jariku mengelus belahan
yang membayang. "Uuuhh... mmmhhh..." Rina
menggelinjang. Kesadaranku yang tinggal sedikit
seolah memperingatkan bahwa yang
sedang kucumbu adalah seorang
gadis SMP, tapi gairahku sudah sampai
ke ubun-ubun dan aku pun menarik
lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa
dengan tubuh hampir polos! Aku segera mengulum puting
susunya yang merah muda, berganti-
ganti kiri dan kanan hingga dadanya
basah mengkilap oleh ludahku.
Tangan Rina yang mengelus belakang
kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak
sabar. Aku menarik lepas celana
dalamnya, dan.. nampaklah bukit
kemaluannya yang baru ditumbuhi
rambut jarang. Bulu yang sedikit itu
sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera
membenamkan kepalaku ke tengah
kedua pahanya. "Ehhh... mmmaaahhh..," tangan Rina
meremas sofa dan pinggulnya
menggeletar ketika bibir
kemaluannya kucium. Sesekali lidahku berpindah ke
perutnya dan mengemut perlahan. "Ooohh... aduuhhh..," Rina
mengangkat punggungnya ketika
lidahku menyelinap di antara belahan
kemaluannya yang masih begitu
rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah
dan bibir kemaluannya mulai
membuka. Sesekali lidahku membelai
kelentitnya dan tubuh Rina akan
terlonjak dan nafas Rina seakan
tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya.
Putingnya sedikit membesar dan
mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan
mengulum, Rina tergeletak terengah-
engah, matanya terpejam. Tergesa
aku membuka semua pakaianku, dan
kemaluanku yang tegak teracung ke
langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina. "Mmmhh... mmmhhh...
ooohhhmmm..," ketika Rina membuka
bibirnya, kujejalkan kepala
kemaluanku. Mungkin film tadi masih diingatnya,
jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku
berganti-ganti meremas dadanya dan
membelai kemaluannya. Segera saja kemaluanku basah dan
mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun
naik ke atas tubuh Rina dan bibirku
melumat bibirnya. Aroma kemaluanku
ada di mulut Rina dan aroma
kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan
kepala kemaluanku ke celah di
selangkangan Rina, dan sebentar
kemudian kurasakan tangan Rina
menekan pantatku dari belakang. "Ohhmm, mam... masuk... hhh...
masukin... Omm... hhh... ehekmm..." Perlahan kemaluanku mulai
menempel di bibir liang kemaluannya,
dan Rina semakin mendesah-desah.
Segera saja kepala kemaluanku
kutekan, tetapi gagal saja karena
tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil
ini akan dapat menampung
kemaluanku yang besar ini. Terus
terang saja, ukuran kemaluanku
adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5
cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu
kecil. Tetapi dengan dorongan nafsu yang
besar, aku pun berusaha. Akhirnya
usahaku pun berhasil. Dengan satu
sentakan, tembuslah halangan itu.
Rina memekik kecil, dahinya
mengernyit menahan sakit. Kuku- kuku tangannya mencengkeram kulit
punggungku. Aku menekan lagi, dan
terasa ujung kemaluanku membentur
dasar padahal baru 3/4 kemaluanku
yang masuk. Lalu aku diam tidak
bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda
yang ada di dalamnya. Sebentar kemudian kernyit di dahi
Rina menghilang, dan aku pun mulai
menarik dan menekankan pinggulku.
Rina mengernyit lagi, tapi lama-
kelamaan mulutnya menceracau. "Aduhhh... ssshhh... iya... terusshh...
mmmhhh... aduhhh... enak...
Oommm..." Aku merangkulkan kedua lenganku
ke punggung Rina, lalu membalikkan
kedua tubuh kami hingga Rina
sekarang duduk di atas pinggulku.
Nampak 3/4 kemaluanku menancap
di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan
pinggulnya, sementara jari-jariku
berganti-ganti meremas dan
menggosok dada, kelentit dan
pinggulnya, dan kami pun berlomba
mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan
pinggul Rina makin menggila dan ia
pun membungkukkan tubuhnya dan
bibir kami berlumatan. Tangannya
menjambak rambutku, dan akhirnya
pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur
seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Rina melemas, aku
mendorong ia telentang. Dan sambil
menindihnya, aku mengejar
puncakku sendiri. Ketika aku
mencapai klimaks, Rina tentu
merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas
dan merasakan orgasmenya yang
kedua. Sekian lama kami diam terengah-
engah, dan tubuh kami yang basah
kuyup dengan keringat masih saling
bergerak bergesekan, merasakan
sisa-sisa kenikmatan orgasme. "Aduh, Oom... Rina lemes. Tapi enak
banget." Aku hanya tersenyum sambil
membelai rambutnya yang halus. Satu
tanganku lagi ada di pinggulnya dan
meremas-remas. Kupikir tubuhku
yang lelah sudah terpuaskan, tapi
segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit
liang vagina Rina yang masih amat
kencang. Aku segera membawanya ke kamar
mandi, membersihkan tubuh kami
berdua dan... kembali ke kamar
melanjutkan babak berikutnya.
Sepanjang malam aku mencapai tiga
kali lagi orgasme,dan Rina... entah berapa kali. Begitupun di saat bangun
pagi, sekali lagi kami bergumul penuh
kenikmatan sebelum akhirnya Rina
kupaksa memakai seragam, sarapan
dan berangkat ke sekolah. Kembali ke rumah Firman, aku masuk
ke kamar tidur tamu dan segera pulas
kelelahan. Di tengah tidurku aku
bermimpi seolah Rina pulang sekolah,
masuk ke kamar dan membuka
bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi
segera saja aku sadar bahwa itu
bukan mimpi, dan aku memandangi
rambutnya yang tergerai yang
bergerak-gerak mengikuti kepalanya
yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala,
dengan film yang kemarin. Ah!
Merasakan caranya memberiku
"blowjob", aku tahu bahwa ia baru
saja belajar dari VCD.

<<Back to Cerita Dewasa
HHome

TOP-RATING

©2026 Benoze Corporation